Infeksi Primer Virus Varicella Zoster yang Diderita Anak

Varicella, yang lebih dikenal sebagai cacar air, adalah infeksi primer yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). Penyakit ini paling umum menyerang anak-anak, terutama mereka yang belum pernah terinfeksi atau mendapatkan imunisasi varicella sebelumnya.

VZV merupakan bagian dari kelompok virus herpes yang sangat menular. Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet udara yang dikeluarkan ketika penderita batuk atau bersin serta melalui kontak langsung dengan cairan lepuhan pada kulit.

Dokter Anak, Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, menjelaskan bahwa cacar air ditandai dengan munculnya ruam gatal berisi cairan. Gejala awal infeksi ini seringkali mirip dengan gejala flu, termasuk demam, lemas, dan sakit kepala.

Pahami Pentingnya Vaksinasi untuk Mencegah Cacar Air

Mencegah infeksi varicella dapat dilakukan melalui vaksinasi. Vaksin varicella telah terbukti aman dan efektif untuk mengurangi risiko infeksi serta keparahan penyakit jika infeksi tetap terjadi. Oleh karena itu, imunisasi varicella direkomendasikan untuk anak-anak sesuai dengan jadwal kesehatan yang telah ditetapkan.

Imunisasi tidak hanya melindungi anak yang divaksinasi, tetapi juga membantu menciptakan kekebalan kelompok. Dengan begitu, penularan virus di masyarakat dapat diminimalisir, dan anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi juga terlindungi.

Selain vaksinasi, orang tua perlu mengingat pentingnya menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan. Hal ini bisa dilakukan dengan rutin mencuci tangan dan menghindari kontak dekat dengan individu yang terinfeksi cacar air.

Gejala-Ciri-Ciri yang Menunjukkan Terinfeksinya Varicella

Gejala cacar air biasanya muncul setelah periode inkubasi sekitar 10-21 hari. Gejala awal mencakup demam yang berlangsung beberapa hari diikuti dengan nyeri tubuh dan kehilangan nafsu makan. Selang beberapa hari setelah munculnya gejala tersebut, ruam khas cacar air mulai terlihat.

Ruam tersebut dimulai dengan bercak merah kecil yang dapat berkembang menjadi lenting berisi cairan. Setelah beberapa hari, lenting tersebut akan mengering dan membentuk keropeng, sering kali menyebar ke seluruh tubuh, termasuk wajah dan kulit kepala.

Dalam kebanyakan kasus, cacar air akan sembuh sendiri dalam waktu 7 hingga 14 hari. Namun, penting untuk selalu memantau perkembangan gejala, terutama pada anak-anak dengan sistem imun yang lemah.

Risiko dan Komplikasi Cacar Air yang Perlu Diketahui

Meskipun banyak kasus cacar air bersifat ringan, ada kalanya komplikasi dapat terjadi. Anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti penyakit autoimun atau mereka yang sedang menjalani pengobatan tertentu, berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Di antaranya adalah infeksi sekunder pada kulit, pneumonia, dan bahkan gangguan saraf seperti ensefalitis.

Infeksi sekunder dapat terjadi akibat garukan pada lenting yang berisi cairan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mencegah anak-anak menggaruk ruam untuk menghindari risiko infeksi lebih lanjut.

Setelah sembuh dari cacar air, VZV tetap berada dalam tubuh dalam keadaan dorman. Virus ini dapat aktif kembali di kemudian hari sebagai herpes zoster, sering kali saat sistem kekebalan tubuh melemah.

Pentingnya pencegahan dan pemahaman mengenai cacar air tidak bisa dilebih-lebihkan. Dengan melakukan vaksinasi dan menjaga kebersihan, risiko penyebaran varicella dapat diminimalisir. Edukasi kepada orang tua juga menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran terkait gejala dan penanganan cacar air.

Bahkan, dengan memahami cacar air sebagai infeksi primer, orang tua dan masyarakat dapat proaktif dalam upaya pencegahan, sehingga komplikasi yang lebih serius dapat dihindari. Masyarakat diharapkan bisa menjalani langkah-langkah pencegahan ini demi kesehatan anak-anak dan keluarga secara keseluruhan.

Related posts